October 16, 2009

pengangguran dot com

Sudah 5 bulan ini saya menjabat status pengangguran.. salah sekian persennya dari (katanya) 20% pengangguran terdidik di Indonesia. Mau dari institut terkemu kek, kampus antah berantah kek, smua nya sama strata nya kalo udah jadi pencari kerja. Lowongan dari berbagai situs tentunya juga tidak sedikit, bahkan buanyak sekali, sampai saya jadi tidak merasa menganggur karena harus meng-update terus berbagai informasi terbaru, jangan sampai ketinggalan. Namun lagi-lagi, kompetensi tidak hanya dinilai dari latar belakang kampus tempat studi, tapi juga jurusan, IP, dan pengalaman kerja. Jurusan saya, oseanografi, adalah hal yang paling sangat tidak banyak diminta dalam mayoritas dunia pencari kerja. Sempat saya berpikir kenapa tidak banyak perusahaan yg membutuhkan oseanografer, atau memang tidak ada konsultan atau perusahaan yg berhubungan dengan dunia perlautan di Indonesia? Yang notabene negara maritim terluas didunia..?! Miris.. Kalau pegawai negri, lain lagi ceritanya, akan saya post kemudian hari.

Ada suatu pernyataan menarik yg kira2 bunyinya seperti ini :

“Menurut survei, sekitar 86% mahasiswa ingin menjadi pegawai dari pada pengusaha. Hal ini lah yang membuat bangsa Indonesia tidak maju.”

Saya pikir kenyataannya memang demikian, dari sekian banyak teman kuliah yang saya kenal, hanya 1-2 orang yang berpikiran akan berwiraswasta. Lalu, apakah yg membuat hal ini dapat terjadi? benarkah di negara2 maju, para pemuda nya berpikiran untuk berwirausaha daripada mengandalkan gaji karyawan??..

Terlepas dari pernyataan dan kenyataan tersebut, hari ini terbukti Titian Karir ITB, acara jobfair di Sabuga, memang menjadi andalan mahasiswa seantero bandung raya untuk mengadu nasib dan keberuntungan. Sudah tidak pilah pilih lagi, perusahaan konsultan kosmetik, makanan, ataupun IT pun di apply (bukan saya ya, tapi org lain). Intinya, smua orang berlomba-lomba memasukkan cv terbaiknya. Lalu, apa yang setelahnya terjadi. Lagi lagi hal yang sama, menunggu lagi.

Yah apa lah artinya cv bagus, kalau belum rejeki, apalah artinya perusahaan bagus, kalau belum rejeki.

Well, kenapa bingung? Bikin aja perusahaan sendiri. (andai saja mudah semudah mengetiknya….)

-yangmasihsabarmenunggurejeki :) -
kicauan si jobseeker : saya bangga loh dgn ilmu saya, walau hanya segitu2 aja, walau tdk bisa di aplikasikan utk simulasi lainnya, walau walau walau… tapi saya tetap mau berkecimpung di dunia perlautan ini.. dunia perlautan indonesaaa.. yehaaa.. wishmeagoodluck!

September 6, 2009

chasing pavements – Adele

Chasing pavements

Ive made up my mind
dont need to think it over
if im wrong i am right
dont need to look no further
this aint lust i know this is love

but if i tell the world
i’ll never say enough
cos it was not said to you
and thats exactly what i need to do
if i end up with you

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads no where,
or would it be a waste
even if i knew my place should i leave it there.
should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads nowhere

i build myself up
and fly around in circles
waiting as my heart drops
and my back begins to tingle
finally could this be it

or should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads no where,
or would it be a waste
even if i knew my place should i leave it there.
should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads nowhere

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads no where,
or would it be a waste
even if i knew my place
should i leave it there

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads nowhere

yeaaah ehh

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads nowhere
or would it be a waste
even if i new my place should i leave it there

should i give up
or should i just keep on chasing pavements
should i just keep on chasing pavements

ooooohhh

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads no where,
or would it be a waste
even if i knew my place
should i leave it there

should i give up
or should i just keep chasing pavements
even if it leads no where

never give up, even the worst thing you ever have had happened

never give up, even the things you’ve tried so hard didn’t come true

never give up, even the love you’ve loved never exist..

syukron… having thanks full to Allah is the only answer..

answer to never give up on everything, even you already have it..

August 20, 2009

Burqini-swimsuit for Muslimah

Ahiy..akhirnya sy menemukan istilah yg selama ini sy gunakan pada saat berenang, diving, or snorkeling..
inilah dia, baju renang kita..BURQINI… Sebenarnya modelnya sudah banyak bertebaran di pasar baru Bandung, seperti ini :
noburqini
namun sayangnya saya tidak terlalu nyaman untuk memakainya, bahkan menurut sy jadi aneh.. setelah googling sebentar, akhirnya sy mendapatkan model yg cocok dan sgt dinanti2…

burqini4burqini1suka sekali sama yg ini

burqini2
burqini3kalo yg ini sih sbnrnya biasa, krn celana nya ketat..

hmm… mungkin sy bisa request yah ke orang yg bisa bikin…sip lah.. cannt wait to wear it soon!

sumber : 1 , 2 , 3

July 26, 2009

kasmaran #1

Soundtrack of the day : “penuh dengan cintah ” by Cozy Street Corner feat. Bonita

[bisa didengar disini]

sekian lama kau kemana saja
rindu kamu bisikkan sayang padaku
sudah lama kau ada di mana
rindu aku, rindu aku

kini tiba saat kita jumpa
biarkanlah lepas segala rindu yg ada
tentunya kita kan senang
mengumbar tawa dan riang

reff: penuh dengan cinta, ku kan berkata
penuh dengan cinta, ku kan berkata
penuh dengan cinta, ku kan berkata
penuh dengan cinta, ku kan berkata

sudah lama kau ada dimana
rindu aku, rindu aku
kini tiba saat kita jumpa
biarkanlah lepas segala rindu yg ada

tentunya kita kan senang
bercanda tawa dan riang
mengumbar tawa dan riang

repeat reff

kasmaran

thanks for making my days always bright and shinny love ^,^
..well that what love is for, right..? ^^

xoxo

July 19, 2009

Indonesia Unite

This is not just a name..this is not a brand of something.. this is our movement.. this is one of the way to show you guys that we are definitely defend on terrorist, who’s just attack our lovely city to the lowest level of safety.. Yes, we are the people of that unlucky city say : WE ARE NOT AFRAID… YET WE FIGHT OURSELF.. TO PROVE THAT THIS CRAZINESS THING ARE NOT WHAT WE ARE…

I am A NATIONALIST, say that we can make our country bigger and stronger… in any situation, we are not tearing apart, yet we become stronger.. I am fully support this movement..

The Indonesiaunite movement is not only to say that WE ARE NOT AFRAID, but it really means that we’re really dare you, f***ing terrorist, anything you want to do, WE ARE NOT AFRAID.. WE ARE NOT AFRAID :
1. Of losing tourists, IF THAT WHAT YOU WANT
2. Of being poorer, IF THAT WHAT YOUR GOAL IS
3. Of being weak, IF THAT WHAT YOU’VE PLANNED
4. Of being apart, IF THAT WHAT YOU’RE TRYING TO DO

I am no one.. I am just a nationalist, who’s really love her beautiful country, and do not want to be just sad of what they already set-up.. Hope Allah give what you deserve!

Suatu hal hanya akan berhasil jika dimulai dengan niat yang baik… Inilah pergerakan kita, hey, kaum muda, jangan hanya bicara, tapi buktikan kalau kita memang bisa, bisa tanpa mereka, mereka yang sudah menjatuhkan kita, kita tidak perlu belas kasihan mereka, biarkan saja mereka mau bilang apa.

Walaupun hanya sedikit, usaha indonesiaunite di twitter, cukup saya hargai dan saya acungkan jempol untuk siapapun itu penggagasnya.
twitter

Dukunglah pergerakan ini kawan, walau hanya sedikit, tapi berarti, bermakna.. Bisa juga ikuti FaceBook nya dengan menjadi fan-nya.

Love you always Indonesia… Keep Fighting!

June 24, 2009

sepeda motor buatan

Lagi jalan2 di sekitar Buah Batu-Bandung..egh liat ini
Image117

Image118e

sepeda ontel yg udah karatan dimanamana..tp disulap jadi sepeda motor..si pembuatnya kreatip bgt.. kayaknya dia pake penggerak kayak mesin pemotong rumput gitu..gada asap yg dikluarin..ga perlu ngegoes..beatrix kalah deh..haha

TWO TUMBS UP buat mas2 itu deh..hehe

April 20, 2009

wisuda april 2009

Alhamdulillah..

sepenggal kata yang tak putus saya ucapkan sampai detik ini.

saya ada diantara 1310 wisudawan ITB tgl 18 april 2009.

kado khusus untuk mama dan bapak, yang sukses membuat mama tercengang akan ITB.. dan bapak yg terus2 membedakannya dengan UI.. fuih.. apapun itu, acara kemarin hanya untuk kalian..

p4180044

Sukses masuk dan keluar bareng, sama yoc, my house-mate.. we’re definitely together for the whole 4 and half years in Bandung. Even we’re not always sharing stories of us, but we do have our own-chemistry. Hope we’ll be keep in touch in the future.

me-n-yocso happy.

Thanks Allah SWT atas semua nikmat ini.

April 1, 2009

Ucapan Terima Kasih

Tugas Akhir ini merupakan buah hasil kerja keras penulis selama kurang lebih 4,5 tahun mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Kerja keras penulis takkan berarti tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya atas segala ilmu dan pengetahuan, bantuan, diskusi, semangat, dan kasih sayang serta perhatian yang telah diberikan kepada penulis. Terimakasih …

Allah SWT atas segala ke-MAHA-segalaan-Mu yang telah diberikan kepada penulis.

Dr. Susanna Nurdjaman, sebagai pembimbing Tugas Akhir, yang telah memberikan banyak sekali ilmu, masukan, kritikan, dan tidak bosan-bosannya untuk penulis ganggu, dirumah, di lab, hari libur, maupun hari-hari lainnya. Terimakasih sangat.

Dr. Eng. Totok Suprijo, sebagai dosen wali penulis selama masa perkuliahan. Terimakasih atas bimbingan, perhatian, dan waktu yang diberikan.

Ivonne M. Radjawane, PhD., sebagai Kaprodi Oseanografi yang telah memberikan masukan dan saran dalam Tugas Akhir ini, juga membantu dan mengajarkan banyak hal selama masa perkuliahan penulis.

Dosen-dosen Oseanografi, Dr. rer. nat. Mutiara R. Putri, Drs. Muhammad Ali, Dr. rer. nat. Dadang K. Mihardja, Dr. Eng. Hamzah Latief, yang telah berbagi ilmu selama masa perkuliahan penulis.

Mama dan Bapak yang tak henti-hentinya mendoakan, memberikan subsidi yang tak hingga dan mungkin takkan tergantikan, baik moril maupun materil.

Teman-teman seperjuangan -Dian, Mey, Welly, Pepey, Jali, Putri, Pipin, Ester, Huda, Ajeng, Cici, Kiki, Ardi, Adis, Ranuh, Hary, Juve, Adi, Mita, Kory, dan Fredik- semangat selalu dengan hal-hal baru dan hal-hal yang masih harus terus diperjuangkan teman.

Untuk Nando, Arlin, Indra, Adnan, Dara, Peye, Kecap, Wildan, Aci, Aw, dll, terimakasih untuk kebahagian, kesukacitaan, pengalaman, pemikiran, yang kalian bagi selama masa perkuliahan penulis. Sungguh tidak dapat dibandingkan nilainya, juga mungkin tidak akan bisa tergantikan.

Untuk Ka Al, Teh Winda, Teh Dian, terimakasih untuk ilmu praktis yang telah diberikan, dukungan dan semangat penulis dapatkan dengan berdiskusi dengan kalian, The Guru yang sungguh sangat menginspirasikan.

Untuk Pak Jimmy, Pak Iwan, Pak Budi, Bu Tati, Pak Bandono, Pak Tony, para diver terhormat, terimakasih atas perhatian, kerjasama dan pengalaman yang telah diberikan selama penulis berkarir di masa perkuliahan ini.

Untuk Yosi, my soul-house mate, thank you for being together with me for the whole 4,5 years in Bandung. Thank you for being care and patient.

Teman-teman Nautika ITB dan LFM ITB, atas segala suka duka bersama yang pernah penulis rasakan walaupun hanya sekejap.

Pour mes meillieurs amis a la class de la France, merci beaucoup pour le grand soutien et le bonheur. Evi, diva, nia, pradip, vous tous les grands de nouveaux amis que j’ai jamais rencontre.

Teman-teman HMGM 2004, terimakasih atas segalanya teman, sungguh semua memori dengan kalian takkan hilang.

Untuk Pak Maman, Pak Muhtar, Mbak Rani, dan segenap karyawan TU-GM atas dedikasi tingginya melayani kami, para mahasiswa yang sering merepotkan.

Untuk Abi, Erik, dan teman-teman Oseanografi 2005, 2006, terimakasih atas dukungan, pujian, cacian, lawakan yang kalian berikan, terimakasih untuk menjadi pewarna dalam kehidupan kampus penulis.

Serta untuk semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah membantu penulis baik selama masa perkuliahan, maupun selama pengerjaan Tugas Akhir, terimakasih terimakasih dan terimakasih.

March 23, 2009

saya “cinta laki-laki biasa”

Hari baru yang cerah, saya -seperti biasa- terlibat rutinitas procrastination, namun rasanya tidak rugi juga. Kenapa? karena saya mendapatkan cerita yang subhannallah bagus yang membuat air mata berlinang pagi-pagi.


Imajinasi pun melambung, berharap Nania (tokoh wanita dlm cerita) adalah saya, yang beruntung mendapatkan suami mulia layaknya Rafli (tokoh pria) :D

happy reading!
—————————————————————————————————————————————–

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,hari- hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik.. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga.. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!

Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli.. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun

terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania.. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

(Sumber : unknown – private milist)

February 21, 2009

what is your personality type?

Kemarin malam, saya menginap di kosan teman saya (tmn perempuan saya). Saya sudah lama tidak ngobrol panjang lebar sama teman saya yang satu ini. Hmm, rasanya kangen serindu-rindunya :D . Kalo udah ketemu, saya rasanya tidak bisa nyetop mulut saya untuk tidak ngomong dan ngomong. Begitu pun dengan dia, kami saling bergantian menjadi pendengar setia nan baik. Haha, entah kenapa saya dan teman saya ini cucok sekali.

Perbincangan ngalor ngidul kemana-mana, mulai dari masalah per-lelakian, masalah tugas akhir, masalah liburan, masalah pernikahan, masalah anak, bagaimana caranya mendidik anak, sampe pada akhirnya kita bercermin ke dalam personality masing-masing. Hmm, jujur saja, saya tidak pernah memetakan diri saya itu seperti apa dan bagaimana menurut ilmu yang compatible untuk menginformasikannya. Kemudian teman saya tiba-tiba teringat sesuatu mengenai pembagian tipe personality seseorang, menurut ilmu psikologi yang pernah dia baca. Dan, taraaaaa.. saya sukses mendapatkan beberapa informasi dari Om Google.

Jadi, seorang Doktor bernama Hellen Fisher, adalah seorang biological anthropologist, yang mendalami ilmu psikologi yang menghubungkan antara relationship dan scientific explanation about why we each other match.

hellen fotonya Dr. Hellen Fisher

Oke. Sangat menarik sekali ilmu yang didalami oleh Dr. Hellen ini ya. Karena untuk menganalisis relationship, dia menggunakan asumsi asumsi yang logic. Bukan dari ilmu perbintangan, atau shio, atau yang lainnya yang saya rasa masih kurang ilmiah -atau bahkan sangat ilmiah ya, saya belum tahu banyak kalau begitu.
Eniwei, Dr. Hellen Fisher membagi personality manusia ke dalam 4 type : Director, Negotiator, Builder, Explorer.

Bagaimana cara mengetahui kamu termasuk tipe apa? hmm, coba kamu ikuti test nya di sini untuk mengetahui personality kamu. [oia, saya tdk menjamin tipe personality kamu 100 % benar ya, tp so far sih selalu benar :D ].

Bisa juga dengan mengira-ngira, kira-kira saya tipe apa yah, dengan membaca penjelasan berikut :

The Negotiator

Negotiators have specific personality traits that have been linked with estrogen. Although estrogen is known as a female sex hormone, men have it, too, and there are plenty of male Negotiators. As the name suggests, this type is superb at handling people. Negotiators instinctively know what others are thinking and feeling. They artfully read facial expressions, postures, gestures, and tone of voice. Their interest in identity extends not only to others but to themselves. So they are introspective and self-analytical– men and women who take pleasure in journeying into their thoughts and motives. As a result, when they form a partnership, they like to delve deeply into the strengths and weaknesses of the relationship.

Not only do Negotiators connect psychologically, they also have the ability to remain mentally flexible. When they make decisions, they weigh many variables and consider various ways to proceed; they see things contextually, rather than linearly — I call it web thinking. As a result, they tend to be comfortable with ambiguity. Negotiators can be highly intuitive and creative. And they like to theorize. Perhaps their most distinctive characteristic is verbal fluency, the facility for finding the right words rapidly. With this skill — alongside an agreeable and accommodating nature, compassion, social savvy, and patience — the Negotiator can be very friendly, diplomatic, and authentic.

But as with all qualities, these traits can warp. Negotiators sometimes become such placators they appear wishy-washy to the point of spinelessness. Because they’re not willing to confront, they can turn to backstabbing. With their need to examine all the possibilities, they can get bogged down in rumination as opposed to action. And in a relationship, their desire to connect and dissect all the subtle meanings between the two of you can become cloying and invasive.

The Director

Specific activities in the testosterone system are what distinguishes this type. Again, although we think of the hormone as male, it is shared by both sexes, and there are many full-blooded women Directors. Whatever the gender, people of this type are competitive. They strive to be top dog and have many skills to get there. They are pragmatic, tough-minded, and most notably decisive, able to make up their minds rapidly, even when faced with difficult choices. Rational analysis, logical reasoning, and objectivity are their core strengths. They also pay attention to details and can focus their attention to the exclusion of everything around them — an ability that enables them to weed out extraneous data and progress on a straightforward path toward a specific goal: the solution. Many Directors are also ingenious, theoretical, and bold in their ideas. Moreover, they are willing to take unpopular, even dangerous paths, to get to the truth. So they persist and often win.

Directors are particularly skilled at understanding machines and other rule-based systems, from computers and math problems to the details of biology, world finance, or architecture. They excel at sports, and often have an acute ear for all kinds of music. Their interests can be narrow; but they pursue them deeply and thoroughly. And they can captivate those who share their hobbies.

Placating leaves the Director cold. He or she often chooses to do a good job rather than please others. In fact, Directors are the least socially skilled of the four types. When preoccupied with work or personal goals, they can appear aloof, distant, even cold, and are generally not interested in making social connections, with the exception of those that are useful or exciting to them.

As with the other types, the traits that make Directors so successful may become grating: For example, their confidence can veer into bragging, their exactitude turn uncompromising, and their forthrightness simply seem rude. And because they often see issues in black and white, they miss the nuances of social, business, and personal situations. But thanks to their dedication, loyalty, and interest in sharing ideas, Directors make close friends. And they can be fiercely protective of those they love.

The Builder

Calm, affable, and people oriented, the Builder’s personality is influenced by the serotonin system. Social situations are often fun and relaxing for Builders; they like to network. Because duty and loyalty are their strong suits, they often acquire a devoted pack of peers and pals. And they’re true guardians when it comes to family and friends.

Builders are cautious — but not fearful. They think concretely. They have a clear memory of yesterday’s mistakes, so they prepare. These people are not impulsive with their money, their actions, or their feelings. Security is important to them. Structure and order are, too. Taking particular pride in upholding social norms, many are traditional, and they often have a strong moral streak. Builders don’t get bored easily, which enables them to be methodical, hardworking, and dependable. Thanks to all these solid qualities, they tend to be regarded as pillars of the community.

But Builders can go overboard. In their quest to do things the “proper way,” they can be intolerant of other ways. Indeed, they can be stubborn. And with their need for order, rules, and schedules, they can stifle spontaneity. Their stoicism can turn into pessimism, their conformity into rigidity, and their concrete thinking sometimes makes them too literal. Normally, however, Builders are community minded, industrious, and popular with colleagues and companions.

The Explorer

Explorers have a very active dopamine system, a brain chemical associated with the tendency to seek novelty, among other qualities. An Explorer might look up from the newspaper on Sunday and say, “Want to go to Warsaw?” — and by Wednesday you’re in Poland. Champions of “never a dull moment,” these adventurers live to discover new people, places, things, or ideas, often on the spur of the moment. Friends, family, and colleagues frequently regard them as highly independent and autonomous.

Explorers have more energy than most people; they tend to be restless, sometimes fast-paced. And they are highly curious — “For always roaming with a hungry heart,” as Tennyson put it. Constantly generating new ideas or creative insights, they easily shift their attention from one thing to another. Although the classic Explorer is a race-car driver, South Pole trekker, or bad-boy rocker who lives hard, taking drugs and having risky sex, I know many who exercise their passion for adventure by reading several hours a day; collecting stamps, coins, or antiques; or walking through the byways of a city.

People quickly like most Explorers. Generous and sunny, they tend to be playful, sensual, sometimes hedonistic, often unpredictable, and regularly amusing. But they can be difficult to take — especially in a marriage. They do not tolerate boredom well. So they are generally not interested in routine social or business events. In fact, Explorers try to avoid routine of almost any kind, and can trample on another person’s cherished beliefs and habits — not to mention be impatient.

[sumber]

Biasanya, seseorang akan mempunyai lebih dari 1 tipe personality, namun ada yang majornya ada juga minornya. Nahh sekarang kamu sudah tahu belum major dan minor nya personality kamu apa?…

Selain itu, sang Doktor juga memetakan tipe mana yang akan cocok dengan tipe mana :

The Builder
Chemical in charge: Serotonin (associated with sociability and feelings of calm)
Personality: Calm, managerial, conscientious, home-oriented but social
Best match: The Explorer
Worst match: The Director

The Negotiator
Chemical in charge: Estrogen (associated with intuition and creativity)
Personality: Imaginative, sympathetic, socially skilled, idealistic
Best match: Good with all types!
Worst match: None

The Explorer
Chemical in charge: dopamine (associated with curiosity and spontaneity)
Personality: Risk-taking, spontaneous, curious, adaptable
Best match: The Builder
Worst match: The Director

The Director
Chemical in charge: testosterone (associated with independence and rational thinking)
Personality: focused, inventive, daring, logical, direct
Best match: The Negotiator
Worst match: The Builder

[dapet dari sumber yang sama, tapi lebih disingkat :D ]

Kita hidup di dalam lingkungan sosial yang sangat beraneka ragam. Dan dari sekian banyak teman/sahabat yang kita miliki, pastinya ada salah satu dari mereka yang sangat cocok dengan kita. Cobalah kalian saling mencocokkan tipe personality yang disebutin diatas, guna membuktikan apakah teori yang dipaparkan Dr. Hellen Fisher ini sesuai sama hidup kamu. Dan ingat, penyocokan tipe personality ini tidak hanya melulu dalam hubungan kamu sama pacar, atau sama calon suami/istri, atau sama sahabat saja, bisa juga sama orang-tua, bos, anak buah, partner, dsb. Kemudian penggunaan pemetaan personality ini juga bisa bermanfaat dalam urusan keorganisasian di lingkungan sosial kamu lhoh, guna mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Buat apa? Ya supaya percek-cokkan yang tidak seharusnya terjadi dapat dihindari, kan kita makhluk sosial, bukan??!

——————————————-

Kembali ke hang out with my girlfriend, dimana saya akhirnya tau apakah personality saya : Saya adalah major Builder/Explorer :D . Dan teman saya itu adalah Explorer/Negotiator. Nahh, jadi sekarang terjawab sudah mengapa saya bisa sepuas-puasnya bercerita, menghabiskan waktu yang tampak tidak akan ada habis-habisnya dan tentu saja tidak akan pernah menemukan kejenuhan bersama teman saya tersebut. Karena kami adalah best match according to Dr. Fisher. :D

So what about you and your social life? :)

Ada tambahan lagi nih. Buat yang tertarik sama personality, kamu bisa analisis diri kamu dari point of view yang lain yang menurut saya cukup bagus juga. bisa langsung Klik disini.

Oh iya, buat teman-teman saya, umm jadi tau kan kenapa saya begitu cocok dengan kalian? *shy

Then i wiss u all Happy trying guys! Happy knowing yourself better!

xoxo